Pemerintah Belum Mampu Kendalikan Harga Obat

Daftar Harga Obat – Meskipun sudah mengerti demikian beragamnya harga obat, pemerintah belum juga dapat seutuhnya mengatur harga obat, terutama obat generik bermerek dagang.

Hal tersebut tersingkap dalam diskusi panel bertopik ”Obat Mahal ; Siapa yang Bertanggung Jawab? ” yang diadakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Selasa (6/3). Selama ini, ada 13. 000 jenis obat yang mengedar di Indonesia. Obat generik bermerek dagang di market harga nya bisa menjangkau 12 kali lipat dari harga obat generik dengan nama International Nonproprietary Name (INN) untuk type obat yang sama.

Direktur Jenderal Bina Kefarmasian serta Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Sri Indrawaty menyebutkan, pemerintah tidak bisa mengatur harga obat generik bermerek dagang di pasar karna tak ada landasan hukum yang kuat. Undang-Undang Nomor 36 Th. 2009 mengenai Kesehatan mengamanatkan penyusunan harga obat, namun baru hanya obat generik dengan INN.

Pada th. 2006, ada 385 item obat yang harga eceran teratasnya diputuskan serta jumlahnya selalu jadi bertambah sampai 453 item th. 2010. Spesial obat generik bermerek dagang, pemerintah hanya mengatur di sarana kesehatan pemerintah. Bila obat generik tidak ada, sarana kesehatan pemerintah bisa memakai obat generik merk dagang dengan harga maksimum 3x lipat harga obat generik dengan INN.

Formularium Jamkesmasi adalah bentuk pengendalian yang lain. Dengan aplikasi kebijakan pengendalian harga obat lewat pembiayaan kolektif berkaitan, pemerintah memiliki kemampuan tawar. Hal tersebut karna pemerintah bisa mengumpulkan keperluan obat yang besar. ”Obat generik sebenarnya adalah potensi besar bila dibeli dengan jumlah besar, ” tutur Sri.

Ketersediaan

Penyediaan obat generik juga bukanlah perkara gampang. tersedianya obat generik rata-rata 12, 8 bulan. Walau sebenarnya, baiknya 18 bulan hingga ketersediaan terjamin waktu sistem pengadaan berjalan. ”Di Indonesia timur, ketersediaan obat rata-rata 10, 4 bulan. Obat dapat berbulan-bulan kosong hingga pengadaan selanjutnya, ” katanya.

Ke depan, pemerintah bukan sekedar pikirkan turunkan harga obat serendah-rendahnya, namun juga kelangsungan produksi obat. ”Kami menginginkan mendorong industri buat obat generik, ” katanya.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Prijo Sidipratomo menyebutkan, aspek penyebab tingginya harga obat, diantaranya, yaitu karna orang-orang masih tetap membiayai kesehatan segera dari kantong sendiri. Mengakibatkan, tempat tawar orang-orang jadi rendah. Untuk menangani mahalnya harga obat, diperlukan system service serta pembiayaan kesehatan yang baik.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Orang-orang Kampus Indonesia Hasbullah Thabrany menyebutkan, System Jaminan Sosial Nasional, termasuk juga di dalamnya jaminan kesehatan dengan jenis asuransi, bisa mengefektifkan pembiayaan kesehatan, termasuk juga obat. Akses serta ketersediaan obat juga jadi lebih terjamin karna ada kepastian pasar.Baca Juga : Obat Tradisional

Leave a Reply